PERDOSKI

PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS KULIT DAN KELAMIN INDONESIA

Indonesian Society of Dermatology And Venereology (INSDV)

18 Oct 2019 | 15:00 WIB

Sindrom Stevens-Johnson: Gangguan Kulit yang Mengancam Jiwa

Sindrom Stevens-Johnson: Gangguan Kulit yang Mengancam Jiwa

Kenali sindrom Stevens-Johnson, penyakit kulit langka yang berbahaya.

Share:

Apa Itu Sindrom Stevens-Johnson?

Sindrom Stevens-Johnson merupakan suatu kelainan yang langka dan serius yang terjadi pada kulit dan membran mukosa, yang meliputi lapisan bola mata, dalam mulut, dan alat kelamin. Sindrom ini biasanya terjadi sebagai reaksi alergi terhadap obat-obatan yang dikonsumsi atau infeksi. 

Sindrom Stevens-Johnson seringkali diawali dengan gejala seperti flu, yang kemudian diikuti dengan ruam merah atau keunguan yang terasa menyakitkan dan dapat melebar serta melepuh. Selanjutnya, bagian kulit atau membran mukosa yang terkena sindrom ini akan mengelupas, dan pada akhirnya sembuh.

Bagaimana Gejalanya?

Beberapa gejala yang timbul saat seseorang mengalami sindrom Stevens-Johnson antara lain demam, sakit di mulut dan tenggorokan, lemas, batuk dan rasa perih di mata. Tak sampai di situ, dapat timbul beberapa gejala lanjutan berupa rasa nyeri atau rasa perih di kulit yang meluas, ruam kemerahan yang menyebar, timbul lepuh pada kulit dan membran mukosa seperti mulut, mata, hidung dan alat kelamin, yang diikuti dengan pengelupasan kulit beberapa hari kemudian.

Sindrom Stevens-Johnson memang satu kelainan yang jarang terjadi dan sering tidak terduga. Pemicu yang paling sering adalah konsumsi obat-obatan tertentu dan juga infeksi.

Beberapa obat tersebut antara lain obat pereda nyeri (paracetamol, acetaminophen, ibuprofen, naproxen, atau piroxicam), obat asam urat (allopurinol), obat antibiotik (penisilin), obat anti kejang dan untuk penyakit mental (antikonvulsan dan antipsikoti).

Faktor Risiko

Anda juga patut mewaspadai berbagai faktor risiko dari sindrom Stevens-Johnson seperti:

Infeksi HIV

Insiden sindrom Stevens-Johnson mengintai 100 kali lebih besar orang-orang dengan HIV dibandingkan mereka yang tidak memiliki HIV.

Daya tahan tubuh lemah

Jika Anda memiliki daya tahan tubuh yang lemah, risiko untuk mengalami sindrom Stevens-Johnson akan meningkat. Daya tahan tubuh Anda bisa terpengaruh akibat transplantasi organ, infeksi HIV/Aids, dan penyakit autoimun.

Riwayat sindrom Stevens-Johnson

Jika Anda pernah menjalani pengobatan yang berhubungan dengan kondisi ini maka Anda berisiko untuk kambuh lagi jika Anda kembali mengonsumsi obat-obatan yang sama.

Riwayat keluarga dengan sindrom Stevens-Johnson

Jika anggota keluarga terdekat Anda pernah mengalami sindrom Stevens-Johnson, atau kelainan terkait yang disebut nekrolisis epidermal toksik (NET), maka Anda akan lebih rentan untuk mengalami sindrom Stevens-Johnson.

Komplikasi Sindrom Stevens-Johsnson

Sindrom Stevens-Johnson tidak bisa dianggap remeh, ini merupakan kondisi gawat darurat di bidang kulit.  Anda harus segera memeriksakan kondisi Anda ke dokter spesialis kulit dan kelamin untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan medis yang tepat, sehingga Anda bisa sembuh dari penyakit ini.

Jika tidak ditangani dengan cepat, sindrom Stevens-Johnson bisa menyebabkan komplikasi, antara lain:

  • Infeksi sekunder di kulit (selulitis): Selulitis dapat menyebabkan komplikasi lain yang mengancam jiwa Anda, termasuk sepsis.
  • Infeksi darah (sepsis): Sepsis dapat terjadi, ketika bakteri dari infeksi memasuki aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Sepsis adalah kondisi yang dapat berkembang dengan cepat, menyebabkan kegagalan organ, dan bahkan mengancam jiwa Anda.
  • Kerusakan di mata: Ruam yang disebabkan oleh sindrom Stevens-Johnson dapat menyebabkan peradangan di mata. Dalam kasus yang ringan, ini dapat menyebabkan iritasi dan mata kering, namun dalam kasus yang parah, ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang luas yang kemudian mengakibatkan gangguan penglihatan hingga kebutaan.
  • Kerusakan di paru-paru: Kondisi ini juga dapat menyebabkan kegagalan pernapasan akut.
  • Kerusakan kulit permanen: Ketika kulit baru tumbuh kembali setelah sembuh dari sindrom Stevens-Johnson, mungkin dapat meninggalkan bekas berupa warna kulit yang tidak merata, dan juga jaringan parut. Penyakit kulit ini juga bisa menyebabkan rambut rontok dan kuku yang tidak tumbuh dengan normal.