PERDOSKI

PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS KULIT DAN KELAMIN INDONESIA

Indonesian Society of Dermatology And Venereology (INSDV)

19 Oct 2019 | 20:27 WIB

Jerawat Bisa Terjadi Pada Bayi dan Anak

Jerawat Bisa Terjadi Pada Bayi dan Anak
Share:

Bukan hanya pada remaja dan dewasa, jerawat juga bisa terjadi sejak bayi baru lahir dan di masa anak-anak. Masalah jerawat pada bayi dan anak juga terbilang cukup sering terjadi dan tidak lagi menjadi sesuatu yang langka. Setidaknya ada 20 persen bayi baru lahir yang mengalami jerawat. Masalah jerawat pada bayi dan anak harus dibedakan dari permasalahan kulit lainnya yang juga sering terjadi di masa awal kehidupan mereka. Jerawat pada anak-anak juga umumnya lebih membutuhkan terapi yang lebih kuat dibandingkan jerawat pada bayi baru lahir.

Pentingnya perawatan jerawat pada bayi baru lahir terletak pada perbedaannya dengan penyakit infeksi atau masalah kulit lainnya, dan kemungkinan terjadinya jerawat yang parah di masa remaja kelak.

Jerawat neonatal berkembang ketika bayi baru lahir hingga bayi berusia sekitar dua minggu, tetapi dapat terjadi kapan saja dalam enam minggu pertama kehidupan. Sedangkan jerawat infantile akan terjadi setelah bayi berusia enam minggu. Meskipun biasanya akan hilang setelah bayi berusia enam bulan hingga satu tahun, beberapa anak memiliki jerawat lebih lama, bahkan hingga usia remaja.

BACA JUGA: Cara Benar Memilih Pelembap Untuk Bayi dan Anak 

Jerawat pada bayi baru lahir biasanya muncul dalam bentuk komedo pada dahi, hidung, dan pipi. Beberapa juga ada yang berupa komedo terbuka, peradangan papula, dan pustula juga mungkin saja terjadi. Masalah jerawat neonatal dan infantile ini juga lebih sering terjadi pada bayi laki-laki.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya jerawat pada bayi baru lahir, termasuk peningkatan sekresi sebum, stimulasi kelenjar minyak yang distimulasi oleh hormon androgen ibu, dan bertambahnya malassezia atau spesies jamur yang alami ditemukan pada permukaan kulit. Peningkatan sekresi minyak di masa neonatal terjadi akibat adanya peningkatan aktivitas kelenjar minyak. Setelah berusia enam bulan, minyak akan menurun seiring dengan berkurangnya hormon Ibu. 

Baik androgen di masa kehamilan dan masa neonatal sama-sama terlibat dalam stimulasi kelenjar minyak yang menyebabkan terjadinya jerawat pada bayi baru lahir. Kelenjar adrenal neonatal memproduksi dehidroepiandrosterone yang cukup tinggi, yang menstimulasi kelenjar minyak hingga usia satu tahun. Setelah berusia satu tahun tingkat dehidroepiandrosterone akan menurun. 

Hormon androgen memberikan stimulasi tambahan pada kelenjar minyak, itulah mengapa jerawat neonatal lebih sering terjadi pada bayi laki-laki. Jerawat neonatal bisa saja terjadi akibat respon peradangan terhadap spesies Malassezia.

BACA JUGA: 10 Produk Pemicu Ruam Pada Kulit Bayi

Perawatan jerawat pada bayi

Jerawat neonatal umumnya tidak memerlukan perawatan yang serius. Menurut American Academy of Dermatology, jerawat bayi cenderung akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan. Namun mereka menyarankan agar orangtua hanya menggunakan produk perawatan kulit bayi yang direkomendasikan oleh dokter. Perlakukan kulit bayi dengan lembut, bersihkan dengan menggunakan air yang hangat, dan hindari produk perawatan kulit yang berminyak.

Orangtua juga sebaiknya memotong kuku bayi secara berkala agar bayi tidak melukai jerawatnya saat menggaruk. Gunakan juga pakaian atau sarung bantal alas tidur yang lembut agar tidak terjadi gesekan pada kulit bayi.

Dokter kulit bisa saja merekomendasikan obat topikal  (krim) untuk mengatasi jerawat neonatal dan infantil. Untuk jerawat yang lebih parah bisa saja dokter meresepkan obat minum (misalnya antibiotik). Namun untuk ini, bayi perlu diperiksa dengan teliti terlebih dahulu oleh dokter spesialis kulit.