PERDOSKI

PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS KULIT DAN KELAMIN INDONESIA

Indonesian Society of Dermatology And Venereology (INSDV)


Volume 45, Nomor 3 | July 2018

Erupsi Alergi Obat

Share:

Alergi obat merupakan salah satu bagian dari adverse drug reaction yang terjadi sebagai reaksi hipersensitivitas dengan mekanisme berupa hapten, prohapten, dan p-i konsep. Gambaran klinis dapat bervariasi dari ringan sampai berat berupa eritema makulopapular, vesikobulosa, maupun menyerupai berbagai penyakit seperti drug induced lichenoid, drug induced pseudolymphoma, dan drug induced lupus erythematosus. Anamnesis yang lengkap dan teliti serta pemeriksaan fisik lengkap dapat membantu menegakkan diagnosis.

 

Obat menurut World Health Organization (WHO) adalah zat yang dapat memengaruhi aktivitas fisik dan psikis. Berdasarkan Permenkes 917/Menkes/Per/X/1993, obat adalah sediaan atau paduan-paduan yang siap digunakan  untuk memengaruhi atau menyelidiki secara fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan, dan kontrasepsi. Namun, obat pula dapat menimbulkan efek yang tidak diharapkan berupa adverse drug reaction.

Erupsi alergi obat merupakan salah satu bagian dari adverse drug eruption yaitu suatu respon terhadap obat yang dapat bersifat toksis, berbahaya, dan tidak diharapkan, dengan dosis normal yang digunakan sebagai profilaksis, diagnosis, terapi suatu penyakit. Sekitar 80% dari erupsi alergi obat merupakan reaksi yang dapat diprediksikan (predictable) berdasarkan farmakologi obat, disebut sebagai reaksi tipe A. Sedangkan reaksi tipe B atau reaksi idiosinkrasi merupakan reaksi yang tidak dapat diprediksikan (unpredictable).

Angka kejadian erupsi alergi obat bervariasi antara 0% hingga 8%, dengan penyebab tersering yaitu antibiotik. Erupsi alergi obat dapat meningkatkan angka kesakitan dan kematian terutama pada pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit, sekitar 2% hingga 3%.8

Reaksi terhadap obat dapat terjadi cepat dan lambat. Erupsi alergi obat yang bermanifestasi ke kulit dapat terjadi dengan beberapa cara, sekitar 10% merupakan mekanisme alergi, yaitu reaksi hipersensitivitas tipe I-IV sesuai dengan klasifikasi Coomb’s dan Gell. Gejala klinis alergi obat dapat menyerupai berbagai penyakit. Anamnesis mengenai pemakaian obat-obat sebelumnya (6 minggu sebelum erupsi alergi obat) atau obat yang digunakan secara rutin, serta pemeriksaan fisik lengkap dapat membantu menegakkan diagnosis.

Obat adalah senyawa kimia dengan berat molekul rendah  yaitu <1000  Da,  sehingga  tidak  dapat  menimbulkan respons imun. Obat dapat menimbulkan respons imun melalui tiga mekanisme, yaitu: (1) Obat bekerja sebagai hapten, yaitu berikatan dengan protein (albumin, integrin, atau enzim), kemudian ikatan tersebut mengirimkan danger signal yang mengakibatkan stimulasi sistem imun innate Selain itu, hapten pula dapat menstimulasi sistem imun spesifik, dengan membentuk kompleks hapten-carrier, membentuk struktur neoantigen. Komplek ini akan berikatan dengan protein major histocompatibility complex (MHC) atau peptida pada permukaan antigen presenting cell (APC) menginduksi respon imu humoral dan seluler. (2) Obat sebagai prohapten sehingga membutuhkan aktivasi metabolik agar dapat menjadi hapten. Contohnya obat sufametoksazol. (3) Konsep interaksi farmakologi dengan reseptor imun (p-i concept). Pada p-i konsep, obat dapat berikatan secara spesifik dan reversibel dengan reseptornya yang sesuai. Obat dapat berikatan dengan MHC-kompleks peptida atau T-cell receptor (TCR), sehingga dapat mengaktifkan sel T dan memberikan efek sitotoksik pada sel target.

 

Endang Sutedja

Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin

FKUNPAD/RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung

 

Info! Silahkan login(dokter) untuk download full edition.