PERDOSKI

PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS KULIT DAN KELAMIN INDONESIA

Indonesian Society of Dermatology And Venereology (INSDV)


Volume 45, Nomor 2 | April 2018

Infeksi menular seksual: suatu kondisi dan tantangan yang perlu dihadapi

Share:
Penanganan Infeksi menular seksual (IMS) masih merupakan tantangan karena merupakan penyakit yang erat kaitannya dengan perilaku yang berisiko, sebagian besar tidak menunjukkan gejala, dan timbulnya  resitansi N.gonorrhoeae terhadap beberapa antibiotika yang digunakan untuk program. Bila tidak dilakukan upaya-upaya yang komprehensif akan berdampak pada peningkatan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian yang memerlukan pelayanan kesehatan jangka panjang dengan biaya yang besar.

Berdasarkan estimasi World Health Organization (WHO) pada tahun 2012, setiap tahun terjadi 357 juta kasus baru IMS yang dapat disembuhkan pada usia 15-49 tahun. Sifilis pada ibu hamil dapat menyebabkan kematian fetus dan neonatus lebih dari 300.000 setiap tahun. Infeksi HPV berhubungan dengan 530.000 kasus kanker serviks dan 264.000 kematian akibat kanker serviks setiap tahun. Adapun gonore dan klamidia merupakan penyebab utama infertilitas di seluruh dunia. Untuk itu WHO mencanangkan strategi global untuk tahun 2030 dengan target: menurunkan insidens sifilis, gonore, infeksi baru HIV, dan kematian akibat AIDS sebanyak 90%, serta menurunkan kasus kongenital sifilis kurang dari 50 per 100.000 kelahiran hidup.

Bagaimana kondisi IMS di Indonesia? Data IMS non-HIV di Indonesia belum tercatat seperti data HIV, sehingga data yang sebenarnya tidak diketahui dengan pasti. Berdasarkan laporan HIV-AIDS & IMS triwulan IV tahun 2017 dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), jumlah kumulatif infeksi HIV dan kasus AIDS sampai dengan bulan Desember 2017 masing-masing sebanyak 280.623 orang dan 102.667 orang. Jumlah kasus HIV yang dilaporkan dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2017 mengalami kenaikan setiap tahunnya. Dalam 10 tahun terakhir penularan HIV telah bergeser dari melalui penggunaan jarum suntik tidak steril menjadi melalui hubungan seksual. Adapun jumlah kasus duh tubuh uretra dan ulkus genital dari tahun 2016 sampai dengan Desember 2017 masing-masing sebanyak 20.262 orang dan 5.754 orang. Pada periode waktu yang sama dilaporkan jumlah ibu hamil yang berkunjung pertama kali ke klinik antenatal care (ANC) sebanyak 149.209 orang, dari jumlah tersebut yang dilakukan tes sifilis hanya 108.430 orang, yang positif sifilis 8.092 orang, dan hanya 1.706 orang yang diterapi. Berdasarkan data dari sebagian besar Institusi Pendidikan Dokter Spesialis (IPDS) Dermatologi dan Venereologi di Indonesia, IMS yang paling sering adalah kutil anogenital, gonore, dan sifilis. Hasil penelitian uji resistansi N.gonorrhoeae terhadap beberapa antibiotika pada tahun 2014 di Jakarta, Yogyakarta, dan Bali, terungkap bahwa semua isolate telah resistan terhadap tetrasiklin dan siprofloksasin, tetapi masih sensitif terhadap seftriakson (100%), sefiksim (100%), dan azitromisin (98,7%). 

Berdasarkan laporan survei terpadu biologis dan perilaku (STBP) pada populasi kunci di beberapa kota di Indonesia pada tahun 2007, 2011, dan 2015, prevalensi HIV, gonore, klamidia, dan sifilis masih jauh lebih tinggi dari target pengendalian IMS terutama pada populasi LSL, wanita penjaja seks komersial langsung (WPSL), dan waria. Sayangnya pengetahuan komprehensif mengenai IMS dan HIV, serta penggunaan kondom pada populasi tersebut  masih sangat rendah.

Dari ulasan di atas menunjukkan bahwa kasus IMS masih belum terkendali. Melalui pengendalian yang baik, diharapkan prevalensi IMS akan menurun, yang selanjutnya akan berdampak kepada penurunan penularan HIV, serta angka kesakitan dan angka kematian yang terkait dengan IMS. Untuk mencapai tujuan tersebut sebagai dokter spesialis kulit dan kelamin, kita harus berperan serta secara aktif dengan melakukan pelayanan IMS yang komprehensif, memberikan penyuluhan secara rutin kepada populasi umum termasuk remaja, populasi kunci, serta menyelenggarakan pelatihan-pelatihan, dan penelitian IMS secara multisenter di seluruh IPDS Dermatologi dan Venereologi di Indonesia.

 

 

Rasmia Rowawi

Departemen Ik Kulit dan Kelamin

FKUNPAD/RSU dr. Hasan Sadikin, Bandung

 

Info! Silahkan login(dokter) untuk download full edition.

Jl. Salemba I No.9, RT.4/RW.6, Kenari, Senen
Kota Jakarta Pusat
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
10430